“Beli Skincare itu pemborosan. Kenapa gak lo syukurin aja muka yang sekarang sih?!”
“Keadilan sosial bagi kaum good looking.”
Pembaca pasti sering menemukan statement seperti di atas kan? Gimana pendapat kalian? Coba tulis di kolom komen ya?!
Menurut penulis, Statement pertama tidak sepenuhnya benar. Karena pemborosan itu relatif. Maksudnya, tiap orang memiliki uang jajan dan penghasilan yang berbeda. Bagi saya jika pengeluaran biaya skincare tidak lebih dari 10 – 30% pendapatan, itu normal. Orang yang ingin sehat maka harus rela menyisihkan uangnya. Lalu, apa bentuk rasa syukur? Yaitu dengan merawat apa yang telah diberikan Tuhan. Analoginya gini, bayangin! kamu memberi hadiah untuk seseorang, kemudian orang tersebut mengatakan terimakasih, namun setelahnya hadiah itu dibiarkan dan tidak terawat hingga akhirnya rusak. Apa yang kamu rasain?
Kemudian, skincare-an itu salah satu bentuk cinta diri loh. Kalo gak cinta mana mau merawat. Ya kan? Yang saya rasain nih, kalo lagi memakai skincare tuh rasanya nyaman, bersih, merasa cantik (mukanya sih biasa, tapi merasa aja hehe). Kalau sudah di tahap sampai gak pernah lagi tuh insecure, itu kan wow banget.
Untuk masalah “keadilan sosial bagi kaum good looking”, kita ambil pelajarannya aja. Karena kita tidak tahu usaha apa yang mereka lakukan. Untuk jadi di tahap level gudluking itu pasti susah banget, even orang yang dilahirkan uda cakep pun pasti ada yang harus dikorbanin, usaha lebih, pakai skincare gak cocok lalu jerawatan lalu coba lagi. Hmm
Jadi, gimana?