Oleh: Offi Maria Ulpah
Akibat wabah virus corona yang terus menyebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia, masyarakat dihimbau Pemerintah agar tidak sering keluar rumah. Alhasil, masyarakat banyak yang beraktifitas di rumah masing-masing atau dikenal dengan istilah WFH (work from home). Kebijakan ini membuat permintaan layanan berbagai tumpangan menurun. Jalanan menjadi sepi, kendaraan di rumah jarang terpakai.
Dampak yang ditimbulkan oleh masa pandemi ini sangat dirasakan oleh perusahaan-perusahaan otomotif, layanan jasa antar online, angkutan umum, dan lain-lain. Seperti contoh; para orang tua yang akan pergi ke Pasar untuk memenuhi kebutuhan dapurnya akan berpikir berulang kali untuk menggunakan angkutan umum. Mereka khawatir akan kerumunan. Kemudian, angkutan-angkutan umum menjadi sepi dan para supir cuti bekerja atau bahkan tidak sedikit dari mereka beralih profesi sementara.
Perusahaan jasa antar online semakin sepi, menyebabkan perusahaan mereka mengalami kerugian yang tidak sedikit. Banyak perusahaan yang terpaksa mengurangi karyawan demi mengurangi anggaran pengeluaran gaji. Pendiri sekaligus pemimpin eksekutif Grab, Anthony Tan mengumumkan, “Sejak kami mulai menjalankan langkah-langkah menghadapi krisis kesehatan global ini, saya berharap tidak perlu mengirimkan pesan seperti ini” tuturnya. “Dengan berat hati, hari ini saya umumkan bahwa kami akan melepaskan sekitar 360 Grabbers (karyawan Grab).” Lalu, langkah Grab ini diikuti oleh perusahaan ride-hailing lainnya.
Berdasarkan catatan Gabungan Aksi Roda Dua (GARDA), permintaan layanan ojek/taksi online menurun sekitar 60-70%, terutama untuk wilayah yang memberlakukan Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB). Hal itu terjadi karena layanan taksi dan ojek online dibatasi. Namun, layanan pesan antar makanan seperti gofood dan grabfood meningkat 10 – 20%. Sedangkan layanan pengiriman barang naik sekiar 10%. Secara keseluruhan, pendapatan tetap lebih rendah dibanding sebelum adanya pandemi covid-19.
Pemilik showroom motor dan mobil tak kalah sepi. Mengakibatkan produsen-produsen otomotif mengalami penurunan permintaan. Karena, pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari pun semakin susah, apalagi untuk membeli kendaraan baru. Bahkan, karena besarnya pengeluaran dan sedikitnya pemasukan di masa pandemi, ada juga yang terpaksa menjual kendaraan mereka untuk menutupi kebutuhannya.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan produksi mobil sudah mulai terlihat sejak April 2020 seiring dengan mulai diberlakukannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah. Produsen Daihatsu dan Mitsubishi sempat menghentikan sementara produksi mereka akibat dampak pandemi. Daihatsu menghentikan sementara produksi sejak 10 April dan kembali membukanya pada 3 Juni. Mitsubishi juga melakukan hal sama sejak April hingga Mei lalu. Sementara itu, Toyota juga mulai menutup sementara pabrik dan dealer mereka seiring kebijakan PSBB pada periode April kendati, mengutip CNBC Indonesia, telah kembali dibuka pada awal Juni.
Gaikindo menyebut meskipun tengah dalam kondisi pandemi, tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan tetap di industri otomotif. Namun, asosiasi kendaraan bermotor itu tak menampik adanya karyawan kontrak yang belum diperpanjang setelah masa kontrak mereka habis.
DAFTAR PUSTAKA
Zaenudin Ahmad. 24 Juni 2020.
https://tirto.id/kala-grab-dan-gojek-goyah-akibat-corona-fKxg. Diakses pada tanggal 02 Januari 2020
Setyowaty Desy. 21 Mei 2020.
https://katadata.co.id/desysetyowati/digital/5ec633687c873/strategi-gojek-dan-grab-antisipasi-skenario-terburuk-pandemi-corona . Diakses pada tanggal 02 Januari 2020.
Gusman Hanif. 19 Juni 2020.
https://tirto.id/bagaimana-pandemi-covid-19-menghantam-industri-otomotif-ri-fJiu. Diakses pada tanggal 03 Januari 2020.